Wednesday, May 23, 2012

Untitled


Aku berdiri diantara dua batu karang yang tajam
Memandangi indahnya langit biru di hamparan luas dunia
Kejar-kejaran ombak mengiringi langkahku berjalan
Bercengkrama dengan alam indahnya bumi yang damai
Aku mengadu kepada sang dewa laut tentang harapanku
Gemuruh pun datang menggiring ombak yang tampak berlarian
Bukan budi yang ia tampakkan dalam jawabnya
Bahkan air mata yang di tumpahkan tak mampu membendung derasnya gelombang
Aku pun seakan disingkirkan oleh tuhan yang ku dewakan
Tak jelas apa yang diharapkan tapi jelas di pelupuk mata
Keberadaan yang telah ada seakan disia-siakan
Aku berlari kepada sang dewa angin
Mengharap ia membaur dalam hidup damai nan ramah
Ku ungkapkan semua anganku tentang hidup
Dengan sejenak ia dengarkan kepelikanku akan dunia
Tapi, bukan kesejukan yang ia pancarkan ke arahku
Bukan pula kesejukan yang ia hadirkan dalam hidupku
Ia kutuk diriku hanya karena keserakahanku
Seakan noda kecil ini menyatu menempel erat dalam jiwaku
Aku berlari kearah raja rimba yang gagah dan bijaksana
Sang dewa hutan menyamar menjadi malaikat jagad raya
Bertutup hitam dibelakang putih di depan raga
Ketidak tahuan mendekatkan ia keharibaanku
Memuji segala tingkah luguku namun melemahkanku
Ia terperanjak dari tidur panjang yang menipu
Menghampiriku dengan suara pecut api yang menyala
Menganga akan kemarahan olehku yang bertipu daya
Ia hanguskan kesejukan hijau dengan bara kekecewaan
Menebas karang, angin, dan hutan
Aku menangis berlari kencang menerjang daratan
Terasingkan oleh titik hitam kecil namun membusuk dalam nafas kehidupan
Hilanglah angan tentang hidup yang aku dambakan
Hanya karena keserakahan, keangkuhan, dan ketidak berdayaan

No comments: