Wednesday, August 8, 2012

ISLAM JUGA BERFILSAFAT


Judul               : Menuju Pemikiran Filsafat
Penulis            : Muhammad In’am Esha
Cetakan           : 1, 2010
Penerbit           : UIN-Maliki Press
Tebal               : 144 + xi
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philos dan sophia. Filsafat berarti “cinta kepada kebijaksanaan”. Bijaksana berarti “mengerti dengan mendalam”. Filsafat dengan demikian bisa juga berarti “ingin mengerti dengan mendalam”(Poedjawijatna, 2002; 2).
Filsafat dikenal sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan. Ini bisa diketahui bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini bermula dari filsafat. Jika orang berbicara tentang filsafat, maka yang terekam dalam memorinya adalah pemikiran-pemikiran barat yang kemudian dijadikan sebagai landasan berfikir. Anggapan tersebut sering kali menutupi kenyataan bahwa dalam islam itu juga terdapat filsafat. Sebagai orang islam kita harus mengetahui seluk beluk filsafat dalam islam sebagaimana kita mengetahuinya dalam tradisi barat.
Didalam filsafat dikenal beberapa istilah yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Didalam islam dikenal istilah epistemologi bayyani, epistemologi burhani, dan epistemologi irfani. Epistemologi Bayyani merupakan cara berfikir filsafat yang didasarkan pada Al-quran, Al-hadits, Ijma’, dan Qiyas. Pada tahapan ini para filosof harus menguasai bahasa arab agar mampu memahami dasar-dasar berfikir tersebut. Epistemologi Burhani merupakan cara berfikir filsafat yang didasarkan pada rasio atau akal. Pada tahapan ini sumber-sumber hukum dalam islam hanya sebagai pembanding terhadap rasio, tetapi lebih didominasi oleh rasio. Epistemologi Irfani merupakan cara berfikir filsafat yang diperoleh langsung oleh Allah SWT. Pada tahapan ini, hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pengetahuan itu diperoleh melalui pendekatan batiniah antara seorang hamba dan Penciptanya.
Dari pemaparan diatas nampak jelas bahwa didalam islam juga terdapat filsafat. Pemikiran-pemikiran ini diperoleh dari pemikiran-pemikiran filosof barat yang kemudian diadopsi oleh ilmuwan-ilmuwan islam. Diantara ilmuwan-ilmuwan islam adalah Ibnu Rusd, Ibnu Kholdun, Ibnu Shina, Alfarabi, dll.
Para ilmuwan barat sekarang menafikan adanya campur tangan dari ilmuwan-ilmuwan islam pada masa dahulu. Mereka (ilmuwan barat) menganggap bahwa yang mereka dapatkan saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan para ilmuwan muslim. Anggapan mereka itu disebabkan karena terbatasnya pengetahuan mereka tentang sejarah ataupun karena ulah pendahulu mereka.
Walaupun masih kurang detail, setidaknya sedikit pengetahuan tersebut dapat membuka wawasan kita tentang filsafat dalam islam. Itu adalah sebagian dari apa yang dipaparkan didalam buku ini. Dengan bahasa yang sangat informatif dan menarik membuat buku ini menarik untuk digali informasinya. Didalam buku ini juga tertulis perkembangan filsafat didalam tradisi islam. Dijelaskan pula bagaimana ilmuwan-ilmuwan islam mengadopsi pemikiran-pemikiran ilmuwan barat.
Sebagai orang islam sudah seharusnya kita bersyukur bahwa islam bukanlah agama yang terbelakan seperti halnya yang dikatakan oleh orang-orang non-islam. Maka bagi para pembaca, membaca buku ini akan membuka cakrawala pengetahuan yang akan membawa kearah filsafat islam.

No comments: