Judul : Menuju Pemikiran Filsafat
Penulis : Muhammad In’am Esha
Cetakan : 1, 2010
Penerbit : UIN-Maliki Press
Tebal : 144 + xi
Kata
filsafat berasal dari bahasa Yunani philos dan sophia. Filsafat
berarti “cinta kepada kebijaksanaan”. Bijaksana berarti “mengerti dengan
mendalam”. Filsafat dengan demikian bisa juga berarti “ingin mengerti dengan
mendalam”(Poedjawijatna, 2002; 2).
Filsafat
dikenal sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan. Ini bisa diketahui bahwa
semua cabang ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini bermula dari filsafat. Jika
orang berbicara tentang filsafat, maka yang terekam dalam memorinya adalah
pemikiran-pemikiran barat yang kemudian dijadikan sebagai landasan berfikir.
Anggapan tersebut sering kali menutupi kenyataan bahwa dalam islam itu juga
terdapat filsafat. Sebagai orang islam kita harus mengetahui seluk beluk
filsafat dalam islam sebagaimana kita mengetahuinya dalam tradisi barat.
Didalam
filsafat dikenal beberapa istilah yaitu ontologi, epistemologi, dan
aksiologi. Didalam islam dikenal istilah epistemologi bayyani,
epistemologi burhani, dan epistemologi irfani. Epistemologi
Bayyani merupakan cara berfikir filsafat yang didasarkan pada Al-quran,
Al-hadits, Ijma’, dan Qiyas. Pada tahapan ini para filosof harus menguasai
bahasa arab agar mampu memahami dasar-dasar berfikir tersebut. Epistemologi
Burhani merupakan cara berfikir filsafat yang didasarkan pada rasio atau
akal. Pada tahapan ini sumber-sumber hukum dalam islam hanya sebagai pembanding
terhadap rasio, tetapi lebih didominasi oleh rasio. Epistemologi Irfani
merupakan cara berfikir filsafat yang diperoleh langsung oleh Allah SWT. Pada
tahapan ini, hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pengetahuan itu
diperoleh melalui pendekatan batiniah antara seorang hamba dan Penciptanya.
Dari
pemaparan diatas nampak jelas bahwa didalam islam juga terdapat filsafat.
Pemikiran-pemikiran ini diperoleh dari pemikiran-pemikiran filosof barat yang
kemudian diadopsi oleh ilmuwan-ilmuwan islam. Diantara ilmuwan-ilmuwan islam
adalah Ibnu Rusd, Ibnu Kholdun, Ibnu Shina, Alfarabi, dll.
Para
ilmuwan barat sekarang menafikan adanya campur tangan dari ilmuwan-ilmuwan
islam pada masa dahulu. Mereka (ilmuwan barat) menganggap bahwa yang mereka
dapatkan saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan para ilmuwan muslim.
Anggapan mereka itu disebabkan karena terbatasnya pengetahuan mereka tentang
sejarah ataupun karena ulah pendahulu mereka.
Walaupun
masih kurang detail, setidaknya sedikit pengetahuan tersebut dapat membuka
wawasan kita tentang filsafat dalam islam. Itu adalah sebagian dari apa yang
dipaparkan didalam buku ini. Dengan bahasa yang sangat informatif dan menarik
membuat buku ini menarik untuk digali informasinya. Didalam buku ini juga
tertulis perkembangan filsafat didalam tradisi islam. Dijelaskan pula bagaimana
ilmuwan-ilmuwan islam mengadopsi pemikiran-pemikiran ilmuwan barat.
No comments:
Post a Comment