Judul : KUDETA SUPERSEMAR (Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan)
Penulis : Achmad Wisnu Aji
Penerbit : GARASI HOUSE OF BOOK (Kelompok Penerbit Ar-ruzz Media)
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 168 halaman
Supersemar adalah surat perintah pada 11 Maret 1966 yang di berikan oleh Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto. Surat ini dikeluarkan oleh Presiden Soekarno agar Letjen Soeharto mengamankan dan meredam situasi Negara yang pada saai itu sedang dalam ke adaan bahaya.
Awalnya Presiden Soekarno sedang melakukan sidang dengan MPRS di Istana Negara. Kemudian terjadi demonstrasi di depan Istana Negara oleh para pemuda, mahasiswa, dan juga ABRI yang tidak memakai tanda pengenal sehingga memaksa Presiden Soekarno untuk pergi ke Istana Bogor dengan membawa holikpter untuk mengamankan dirinya. Kemudian tiga jenderal yaitu Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M. Jusuf, dan Amirmahmud menyusul ke Bogor. Ketika sampai di Bogor, kemudian ketiga jenderal tersebut berdiskusi dengan Presiden Soekarno tentang keamana Negara. Kemudian ketiga jenderal tersebut mengusulkan agar Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Letjen Soeharto untuk menanganinya. Kemudian Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengamankan situasi yang terjadi. Dan muncullah Supersemar.
Supersemar memuat perintah Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto atas nama presiden/panglima tertinggi/pemimpin besar revolusi :
1. Mengambil segala tindakan yang di anggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pemimpin Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS demi keutuhan bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran pemimpin besar revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan panlima-panglima angkatan-angkatan lain dengan sebaik-baiknya.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.
Dengan berlandasan supersemar, akhirnya Letjen Soeharto membubarkan PKI, dan itu membuat Presiden Soekatno marah besar sehingga mengeluarkan surat pada 13 Maret 1966 yang isinya adalah :
1. Mengingatkan bahwa Surat Perintah 11 maret 1966 sifatnya teknis/administrative, tidak politik, semata-mata adalah perintah mengenai tugas keamanan bagi rakyat dan pemerintah, untuk keamanan dan kewibawaan Presiden/Pangti/Mandataris MPRS.
2. Bahwa Jenderal Soeharto tidak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan yang melampui bidang politik sebab bidang politik adalah wewenang langsung presiden, pembubaran suatu partai adalah hak presiden semata-mata.
3. Jenderal Soeharto dimanta dating menghadap presiden di istana untuk memberikan laporannya.
Setelah membacanya, Soeharto menyatakan bahwa pembubaran PKI adalah tanggung jawabnya sendiri. Dia bukannya tidak perduli terhadap surat tertanggal 13 Maret tersebut yang intinya mengoreksi kekeliruan pemahamannya terhadap Supersemar. Dia tidak melaksanakan isi sepenuhnya, bahkan justru menggunakan Supersemar dalam fungsi diluar yang menjadi maksud Presiden Soekarno.
Nampak jelas bahwa di dalam surat perintah pada 11 Maret 1966 tersebut tidak ada “pengalihan kekuasaan”. Tapi dalam kenyataannya, Letjen Soeharto menjadikan supersemar sebagai landasan untuk “mengambil semua tindakan yang di anggap perlu” sehingga hasilnya Letjen Soeharto diangkat menjadi presiden pada 12 Maret 1967. Ini membuktikan bahwa Letjen Soeharto menjadikan supersemat sebagai alat untuk menurunkan Presiden Soekarno.
Hal inilah yang menjadi kontroversi tentang tujuan supersemar itu dikeluarkan. Ada yang mengatakan supersemar itu tidak dari Presiden Soekarno melainkan telah di siapkan oleh Letjen Soeharto dan memaksa Presiden soekarno untuk menandatangani surat tersebut dengan todongan pistol di belakang. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa supersemar itu di buat sendiri oleh Presiden Soekarno. Ini menjadi kontroversi karena tak selang beberapa lama kemudian setelah pengeluaran supersemar tersebut Presiden Soekarno di gantikan Letjen Soeharto sebagai presiden. Banyak anggapan bahwa Letjen Soeharto menggunakan supersemar sebagai dasar untuk menggulingkan Soekarno. Sehingga muncul pertanyaan, apakah supersemar itu penyerah kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto atau perampasan kekuasaan yang di lakukan oleh Letjen Soeharto. Semua itu tertera dalam buku ini yang menjelaskan bagaimana proses awal dari supersemar sampai pindahnya kekuasaan dari Presiden Soekarno. Buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca karena menjelaskan sejarah bagaimana supersemar ini terbentuk yang sampai sekarang masih belum ditemukan naskah aslinya.
No comments:
Post a Comment