Judul : Tan Malaka (Biografi Singkat 1897-1949).
Penulis : Taufik Adi Susilo.
Penerbit : Garasi, Jogjakarta.
Cetakan : 1, Oktober 2008.
Tebal : 184 halaman.
Tiga ratus lima puluh tahun Indonesia hidup dalam jajahan Belanda. Tiga setengah abad Indonesia mengalami penindasan, kebodohan, dan ketidak nyamanan rakyatnya. Pada abad ke-19, Indonesia mulai memberanikan diri untuk keluar dari penjajahan Belanda. Para cendekiawan-cendekiawan Indonesia mulai berani mengemukakan gagasan-gagasan untuk mengeluarkan Indonesia dari penjajahan. Diantara sekian banyak pejuang terdapat nama yang mungkin asing bagi kita semua, Tan Malaka.
Nama lengakapnya adalah Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia lahir di Pandan Gadang, Suluki, Sumatera Barat, pada 02 Juni 1897. Pandan Gadang adalah sebuah nagari yang tersuruk di Bukit Barisan, di antara lempit bukit dan sawah hijau yang membentang, juga kicau burung yang berlompatan di buah-buah ranum. Nagari Pandan Gadang, serupa banyak desa di Ranah Minang, terhampar di bawaj perbukitan hijau. Lembah di kaki bukit dengan sawah berundak-undak ini melingkupi desa yang di pagari jajaran pohon kelapa. Air yang mengalir di sawah dan di sungai sekitarnya jernih dan dingin.
Tan Malaka adalah anak seorang pegawai pertanian Hindia-Belanda. Ketika ia berusia 12 tahun ia berkesempatan mengecap sekolah pendidikan guru yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda yaitu di Sekolah Rajo, Bukittinggi. Sejak saat itu ia menunjukkan kecerdasannya sebagaimana dikatakan guru Belandanya, G. H. Horensma, “Rambutnya hitam-biru bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan sesuatu.”
Tan Malaka lulus pada tahun 1913. Pada usia 17 tahun ia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. Di alama Minangkabau tak lengkap jika membekali anak negerinya tanpa mengaji dan pencak silat. Mengaji dan pencak silat adalah pembentuk kepribadian dan kepercayaan diri :”tak kayu jenjang dikeping; musuh indak dicari bersua pantang dielakkan; induk cari dan sanak cari, induk semang cari dahulu”. Itu adalah bekal yang dimiliki oleh Tan. Tan Malaka mendahului sekolah di Belanda daripada Mohammad Hatta, Nazir Datuk Pamoentjak, Sutan Sjahrir, Abdul Rivai, Asaat, Ibrahim Taher, Zaharin Zain, dan Abdul Muis.
Pemuda yang satu ini sangat lihai dalam memainkan perannya sebagai pejuang. Sepak terjangnya menjadi bukti kuatnya perlawanan dari para pemuda Minangkabau. Meski terkenal sebagai wilayah yang kuat menganut islam, siapa nyana justru ideology kiri seperti sosialisme dan komunisme bercokil kuat di sana. Bahkan agama islam menjadi basis persemaian ideologi kiri di Minangkabau. Kebanyakan tokoh pergerakan kemerdekaan pernaha menempuh pendidikan keagamaan.
Di Belanda, watak Tan Malaka terbentuk : membaca, belajar, dan menderita. Disana ia menutupi kekurangan uang dengan mengajar bahasa Melayu, sambil berusaha menyelesaikan sekolah, dan berjuang melawan sakit bronchitis, yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat musim dingin.
Tan Malaka juga pernah bergelut dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan ia merupakan pemuka di partai tersebut. Lewat Partai Komunis Indonesia (OKI) ia menyerukan kepada rakyat jelata untuk melawan penjajahan dan meraih kemerdekaan seratus persen. Karena itu lah Tan Malaka kemudian di jatuhi hukuman pengasingan dan ia memilih Belanda sebagai tempat pengasingannya yaitu pada Maret 1922. Kemudian ia pergi ke Moscow dan mengikuti pendidikan partai komunis. Selama masa pengasingannya, Tan Malaka juga menulis buku yang berjudul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke (Indonesia dan Tempatnya di Timur yang Sedang Bangkit). Tan juga pergi ke Jerman Cina, Bangkok, Hong Kong, Manila, Singapura, dan kota-kota lainnya sebelum ia kembali ke Tanah Air pada 1942 setelah militer Jepang menguasai Asia Tenggara.
Yang penting di catat pada periode pelariannya adalah brosur yang di tulis dan di terbitkannya di Caton, Cina pada 1924 yaitu Naar Repoebliek Indonesa (Menuju Republik Indonesia). Hal itu menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah pencetus gagasan Indonesia Merdeka jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Dengan Menuju Republik Indonesia maka untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” di canangkan. Gagasan Tan ini di Sampaikan Sembilan tahun sebelum Soekarno menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Juga lebih dulu di bandingkan Mohammad Hatta dengan Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) pada 1928.
Pemikiran-pemikirannya yang radikal sering membuat kawan dan lawannya geram. Ini dibuktikan dengan pemikirannya yang tak kenal kompromi terhadap pemerintah kolonial. Sehingga ia menjadi salah satu orang yang dicari-cari oleh lawannya. Bahkan pemerintahan Soekarno-Hatta juga tak jarang tidak sejalan dengan pemikirannya. Ia di kenal sebagai orang yang tidak mau di ajak bernegosiasi dengan penjajah. Ketika waktu itu presiden Soekarno akan berunding dengan Belanda tentang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka menyatakan tidak setuju dengan Soekarno. Karena di anggap pemikirannya itu akan mengganggu jalannya perundingan maka Tan Malaka menjadi buronan.
Tan Malaka adalah teman Jendral Soedirman ketika melakukan perang gerilya. Bertahun-tahun ia berjuang bersama rakyat untuk melawan penjajah. Walaupun demikian, Tan Malaka akhirnya Mati oleh peluru negaranya sendiri. Kematian Tan ini menjadi kontroversi tentang siapa yang membunuh Tan Malaka, yang jelas Tan tewas di Kediri. Kuburannya terletak di atas bukit di Selopanggung, Kecamatan Semen, berjarak sekitar 20 kilometer sebelah barat kota Kediri.
Begitulah sebagian kisah dari seorang pejuang Tan Malaka yang tak pernah berhenti untuk memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Buku ini perlu di baca dan di pelajari, karena buku ini menceritakan sejarah seorang pejuang yang tak kenal lelah walaupun namanya kurang di kenal di masyarakat. Pembaca akan sangat menikmati kisah yang di paparkan dalam buku ini karena bahasa yang digunakan sangat informatif dan itu adalah salah satu kelebihan buku ini. Tetapi pembaca kadang juga akan mengalami kesulitan dalam memahami isi buku ini karena tidak jarang terdapat kata-kata ilmiah dan kata-kata asing lainnya sehingga perlu tenaga ekstra untuk bisa memahaminya. Dengan membaca buku ini mudah-mudahan pembaca akan terinspirasi dan tergugah untuk senantiasa memperjuang Negara Republik Indonesia dalam kondisi apapun seperti yang telah di lakukan oleh Tan Malaka.
No comments:
Post a Comment